TEORI PRAKLASIK MERKANTILISME

Posted: Maret 24, 2011 in Uncategorized
TEORI PRAKLASIK MERKANTILISME
Merkantilisme adalah suatu aliran / filsafat ekonomi yang tumbuh dan berkembang dengan pesat pada abad XVI s.d XVIII di Eropa barat. 

Ide pokok merkantilisme adalah sebagai berikut.

  1. suatu negara/raja akan kaya/makmur dan kuat bial ekspor lebih besar daripada impor (X-M)
  2. surplus yang diperoleh dari selisih (X-M) atau ekspor neto yang positif tersebut diselesaikan dengan pemsukan logam mulia (LM), terutama emas dan perak dari luar negeri. Dengan demikian, semakin besar ekspor neto, maka akan semakin banyak LM yang dimiliki atau diperoleh dari luar negeri.
  3. pada waktu itu LM (emas maupun perak) digunakan sebagai alat pembayaran (uang), sehingga negara / raja yang memiliki LM yang banyak akan kaya / makmur dan kuat.
  4. LM yang banyak tersebut digunakan oleh raja untuk membiayai armada perang guna memperluas perdagangan luar negeri dan penyebaran agama.
  5. penggunaan kekuatan armada perang untuk memeprluas perdagangan luar negeri ini diikuti dengan kolonialisasi di Amerika Latin, Afrika dan aAsia terutama dari abad XVI s.d XVIII.KEBIJAKAN MERKANTILISME
    Untuk melaksanakan ide tersebut diatas, merkantilisme menjalankan kebijakan perdagangan (trade policy) sebagai berikut:
    1) mendorong ekspor sebesar-besarnya, keculai LM
    2) Melarang/membatasi impor dengan ketat kecuali LM

    NEO MERKANTILISME
    Kebijakan merkantilisme pada saat ini masih dijalankan oleh banyak negara dalam bentuk “neo merkantilisme”, yaitu kebijakan proteksi untuk melindungi dan mendorongt ekonomi industri nasional dengan menggunakan kebijakan tarif atau tariff Barrier dan kebijakan Nontariff barrier. Biasanya tariff barrier dilaksanakan dengan menggunakan countervailing duty, bea anti dumping dan surcharge.
    Dalam hal ini, kebijakan proteksi yang lebih banyak digunakan biasanya dalam bentuk Nontariff Barrier seperti larangan, sistem kuota, ketentuan teknis, harga patokan, peraturan kesehatan, dll.

    KRITIK DAVID HUME
    Ide atau pokok pikiran dari merkantilisme mengatakan bahwa negara/raja akan kaya/makmur bila X>M, sehingga LM yang dimiliki akan semakin banyak. Dengan kata lain, kekayaan/kemakmuarn suatu negara/raja identik dengan jumlah Lm yang dimilikinya. Lm pada waktu itu digunakan sebagai alat pembayaran/uang sehingga bila LM banyak, maka ini berarti Money Supply (Ms) atau jumlah uang beredar banyak. Bila jumlah uang beredar naik, sedangkan produksi tetap tentu akan terjadi inflasi atau kenaikan harga. Kenaikan harga didalam negeri tentu akan menaikkan harga barang-barang ekspor (Px) sehingga kuantitas ekspor (Qx) akan menurun.
    Naiknya jumlah uang beredar yang diikuti dengan peningkatan inflasi di dalam negeri tentu akan menyebabkan harga barang impor (Pm) menjadi lebih rendah sehingga kuantitas impor (QWm) akan meningkat. Perkembangan yang demikian ini tentu akan menyebabkan ekspor (X) menjadi lebih kecil daripada impor (M). Atau impor menjadi lebih besar daripada ekspor sehingga akhirnya LM akanmenurun atau berkurang. Dengan berkurangnya LM yang dimiliki, maka berarti raja menjadi miskin karena LM identik dengan kekayaan/kemakmuran.
    Perubahan dari negara / raja yang kaya/makmur menjadi negara/raja yang miskin menurut paham merkantilisme ini dikritik oleh David Hume sebagai “Mekanisme Otomatis”dari “price-specie Flow Mechanism” atau PSFM.
    Dengannadanya kritik David Hume ini, maka teori Pra-Klasik atau merkantilisme dianggap tidak relevan, selanjutnya muncullah teori klasik atu absolute advantage dari adam Smith.
    Berdasarkan PSFM dari Hume, Smith mengkritik aliran merkantilisme dengan mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

  1. ukuran kemakmuran suatu negara,bukanlah ditentukan oleh banyaknya LM yang dimilikinya.
  2. kemakmuran suatu negara ditentukan oleh besarnya GDP dan sumbangan perdagangan luar negeri terhadap pembentukan GDP negara tersebut.
  3. untuk meningkatkan GDP dan perdaganagn luar negeri, maka pemerintah harus mengurangi campur tangannya sehingga tercipta perdagangan bebas atau free trade.
  4. dengan adanya free trade maka akan menimbulkan persaingan yang semakin ketat. Hal ini akan mendorong masing-masing negara untuk melakukan spesialisasi dan pembagian kerja internasional dengan berdasarkan kepada keunggulan absolut yang dimiliki masing-masing negara.
  5. spesialisasi dan pembagian kerja internasional yang didasarkan kepada absolute advantage , akan memacu peningkatan produktivitas dan efisiensi sehingga terjadi peningkatan GDP dan perdagangan luar negeri atau internasional.
  6. peningkatan GDP dan perdagangan internasional ini identik dengan kemakmuran suatu negara.

JOAN ROBINSON (1903-1983)

1. Profil Joan Robinson
Nama : Joan Violet Robinson
Tanggal Lahir : Surrey ( Inggris), 31 Oktober 1903
Wafat : 5 Agustus 1983
Kebangsaan : Inggris Raya
Kontribusi : Teori Pertumbuhan Cambridge
Robinson terlahir dengan nama Joan Maurice di Surrey, Inggris 1903. keluarganya adalah keluarga golongan menengah atas yang memberi prioritas pada pendidikan dan kebebasan berpikir. Ayahnya seorang jenderal, penulis dan diakhir hidupnya menjadi pimpinan sebuah akademi yang selanjutnya menjadi cikal bakal Universitas London. Ibunya seorang putri dari seorang profesor di Universitas Cambridge. Robinson sekolah di St. Pauls, sebuah sekolah dasar khusus putri, dimana ia belajar sejarah, kemudian meneruskan pendidikannya ke Girton College. Kemudian ia meneruskan ke Cambridge untuk belajar ekonomi. Dia tertarik pada ekonomi untuk mempelajari mengapa kemiskinan dan pengangguran melanda dunia dan karena dia berpikir bahwa ekonomi dapat memecahkan masalah-masalah itu.
Beberapa tahun ia tinggal di India bersama suaminya (ahli ekonomi Austin Robinson), Robinson menghabiskan waktunya selama setengah abad sesudah kelulusannya pada 1925 untuk mengajar dan sebagai dosen di Universitas Cambridge. Namun, karena dia seorang wanita dia tidak bisa menjadi anggota tetap di Universitas Cambridge sampai tahun 1948.
Tahun 1930, Robinson menjadi aktivis di Cambridge Circus sebuah kelompok kecil para ahli ekonomi yang membantu Keynes dalam mengembangkan General Theory-nya. Kemudian dia membantu dan mempertahankan Keynes dari kritikan-kritikan dan sekaligus mengembangkan ide-ide Keynes..Pada awalnya Joan Robinson adalah pendukung ekonomi Klasik, kemudian dia mengubah pikirannya setelah bertemu dengan John Maynard Keynes. Sebagai anggota dari ‘Cambridge School’ Robinson kemudian memberi dukungan dan pengunjukan teori umum Keynes, dalam tulisan pertamanya pada tahun 1936 sampai tahun 1937 ia menulis tentang keterlibatan-keterlibatan tenaga kerja yang mencoba menjelaskan dinamika ketenaga kerjaan ditengah-tengah depresi besar pada tahun tersebut.
Pada tahun 1933 dia menulis bukunya yang berjudul Economics of Imperfect Competition yang memperkenalkan istilah “Monopsoni” yang menjelaskan tentang seorang pembeli dan seorang penjual monopoli.
Kemudian pada tahun 1949, Joan Robinson diundang oleh Ragnar Frisch untuk menjadi wakil ketua dari Econometric Society. Pada tahun 1956 Joan Robinson menerbitkan karangan besar berjudul The Accumulation of Capital yang memperluas ekonomi Keynesian dalam jangka waktu yang sangat panjang. Enam (6) tahun kemudian ia menerbitkan buku lain tentang teori pertumbuhan, yang menjelaskan tentang konsep-konsep dari “usia keemasan” atau alur-alur pertumbuhan. Setelah itu ia mengembangkan teori pertumbuhan Cambridge dengan Nicholas Kaldor sampai tahun 1960. Ia juga menjadi salah satu peserta dalam kontroversi Cambridge bersama Piero Sraffa.
Di penghujung hidupnya dia belajar dan berkonsentrasi pada permasalahan metodologis dalam ekonomi dan mencoba menyempurnakan dari Teori Umum Keynes. Pada tahun 1962 sampai 1980 Robinson menulis banyak buku yang mencoba membawa beberapa teori ekonomi kepada masyarakat umum. Robinson mengusulkan untuk mengembangkan satu alternatif pengembangan rohani dari ekonomi klasik.
Tahun 1974 Robinson terpilih sebagai presiden Asosiasi Ekonomi Amerika, karena itu dia adalah wanita pertama dari segelintir orang non-Amerika yang menjadi presiden asosiasi tersebut. dia juga menjadi wanita pertama yang masuk daftra nominasi penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi. Kemudian pada tahun 1983 ia menderita stroke dan meninggal dalam usia 79 enam bulan kemudian di rumah sakit Cambridge.
Joan Robinson memberi sumbangan besar untuk dua bidang ekonomi. Pada awal karirnya, dia memfokuskan diri pada bentuk-bentuk pasar yang juga menjadi perhatian ahli ekonomi waktu itu, yaitu antara pasar persaingan sempurna dan pasar monopoli. Beberapa waktu kemudian ia menjadi tokoh penting dalam mempertahankan dan mengembangkan teori-teori Keynes, dan menjadi salahseorang pendiri aliran ekonomi post-Keynesian.

2. Pokok-pokok Pikiran/Teori Joan Robinson
 Teori Persaingan Tidak Sempurna
Saat menjadi sarjana muda, Robinson mempelajari Principles of Economics dari Marshall, yang merupakan buku bacaan standar waktu itu. dia tidak puas pada kesimpulan dari karya itu, yaitu bahwa gabungan antara produsen dan konsumen akan memaksimalkan kekayaan mereka. Keseimbangan ini sepertinya tidak sesuai dengan kondisi ekonomi inggris tahun 1920 dimana tingkat penganggurannya begitu tinggi dan erndahnya kapasitas kerja dari industri. Robinson juga tidak puas dengan kenyataan bahwa Marshall dan para ekonom lain hanya memfokuskan diri pada dua tipe industri: persaingan sempurna dan monopoli. Ia berpendapat dunia akan lebih menarik apabila berada diantara dua titik ekstrem ini. The Economics of Imperfect Competition (Robinson 1933) menganalisa industri dunia nyata yang terdiri dari bagian antara industri kompetitif yang tinggi dengan perusahaan kecil yang banyak dan industri yang hanya terdiri dari satu perusahaan.
Struktur pasar persaingan tidak sempurna didasarkan pemikiran Pierro Sraffa dan Joan Robinson serta Chamberlin pada tahun 1930-an. Sraffa menulis buku The law of Return Under Competitive Condition, sedangkan Joan Robinson menulis The Theory of Monopolistic Competition pada tahun 1933.
Asumsi-asumsi yang mendasari pasar persaingan tidak sempurna, yaitu penetapan pajak secara sepihak, sumbangan lainnya dari Robinson adalah mengenai eksploitasi tenaga kerja. Robinson dipengaruhi oleh aliran sosial dan berpendapat setiap pekerja harus dibayar sesuai dengan produktivitas marjinalnya.
Keseimbangan dalam pasar persaingan tidak sempurna dapat terjadi pada beberapa titik, yaitu pada saat ATC menurun, minimum atau menarik. Namun, keadaan yang lazim terjadi adalah pada saat ATC menurun dan hal ini disebabkan, antara lain oleh diferensiasi produk, under capacity, iklan dan kelembagaan.
Dalam menjelaskan pembuatan keputusan perusahaan, Robinson menggunakan konsep pendapatan marjinal (marginal revenue), yakni tambahan pengembalian perusahaan yang diperoleh ketika perusahaan memproduksi dan menjual satu barang lagi. Bagi perusahaan kompetitif, pendapatan marjinal akan selalu merupakan harga yang sama, karena perusahaan dapat selalu menjual barang lebih banyak tanpa harus mengobral atau menurunkan harga.
Tapi perusahaan dalam pasar persaingan tidak sempurna akan mengalami kurva pendapatan marjinal yang lerengnya menurun. Untuk dapat menjual lebih banyak, mereka harus mengobarl barang. Jika ini terjadi, beberapa konsumen akan mambayar barang dibawah harga . perusahaan akann kehilangan pengembalian ini. Dengan mempertimbangkan baik itu harga yang rendah dan penjualan yang tinggi, perusahaan mungkin akan memotong harga untuk menjual lebih banyak namun tidak mendapatkan pengembalian (yaitu pendapatan marjinal ). Sebaliknya perusahaan akan mendapat pengembalian lebih jika perusahaan menaikkan harga dan mengurangi produksi dan penjualan.
Dengan menunjukkan bagaimana naiknya harga dan kurangnya output produksi dapat meningkatkan pendapatan perusahaan besar, Robinson mampu menjelaskan mengapa persaingan tidak sempurna ditandai dengan produksi yang tidak cukup dan penggunaan sumber daya yang tidak efisien. Karena itu persaingan tidak sempurna dapat menjelaskan tingginya tingkat pengangguran yang terjadi di inggris (sedangkan teori persaingna sempurna tidak dapat menjelaskannya) pada tahun 1920-an dan pada masa depresi tahun 1930-an.
Dalam The Economics of Imperfect Competition, ia juga menunjukkan bahwa dalam persaingan tidak sempurna, para pekerja menerima gaji yang kurang dari nilai produksi mereka. Konsekuensinya, produktivitas marjinal tidak dapat bertahan ketika persaingan tidak sempurna eksis. Dengan persaingan tidak sempurna pekerja etreksploitasi oleh pengusaha yang kuat. Untuk mengembalikan kepada keadaan semula, Robinson memperkenalkan gagasan monopsoni, suatu keadaan dimana hanya ada satu majikan pada suatu daerah geografis tertentu atau satu majikan bagi pekerja dengan keterampilan tertentu. Dengan hanya satu majikan yang potensial dan dengan banyaknya pencari kerja, maka orang-orang berada pada keadaan kerugian kompetitif. Mereka terpaksa menerima gaji yang ditawarkan oleh satu majikan saja. Robinson mengakui bahwa dunia ini tidak terdiri dari pasar tenaga kerja monopsonistik. Namun, gagasan monopsoni membantu dalam memberi perhatian pada penentuan upah sebagai suatu proses tawar-menawar dan pada eksploitasi pekerja karena kurangnya kekuatan tawar-menawar terhadap beberapa perusahaan besar.

Kontribusi penting lain dari Economics of Imperfect Competition adalah analisanya tentang diskriminasi harga. Para ahli ekonomi telah mengetahui bahwa perusahaan monopoli besar menetapkan harga yang berbeda untuk orang yang berbeda, tetapi Robinson adalah orang pertama yang menjelaskan prinsip cara kerja dan konsekuensinya. Robinson menunjukkan bahwa diskriminasi harga hanya mungkin ada dalam monopoli atau persaingan tidak sempurna. Melalui diskriminasi harga, perusahaan-perusahaan monopoli dapat menaikkan pendapatan dan laba mereka.
Dalam pemberlakuan diskriminasi harga, perusahaan-perusahaan perlu membagi pasar untuk produknya menjadi dua bagian : konsumen yang ingin dan dapat membayar dengan harga tinggi dan konsumen yang sensitif terhadap harga. Kemudian perusahaan perlu mencari cara untuk menetapkan harga yang lebih tinggi pada kelompok pertama. Salah satu cara adalah dengan menetapkan harga yang berbeda pada waktu yang berbeda-beda dalam satu hari. Karena itu, perusahaan telepon misalnya, akan memberikan harga yang lebih rendah pada malam hari dan akhir minggu. Pelanggan bisnis, yang pada umumnya tidak sensitif terhadap harga, akan membayar pada harga yang tinggi dan individu akan membayar pada tingkat pengurangan biaya pulsa telepon terendah. Kupon diskon juga membantu dalam pembagian pasar dan memungkinkan adanya diskriminasi harga. Mereka yang peduli pada harga akan mengambil kupon dan membeli barang dengan harga yang lebih rendah, jadi mereka tidak akan membayar harga penuh. Demikian juga, praktik penetapan harga dengan tawar-menawar seperti pada dealer mobil akan mengakibatkan diskriminasi harga. Disini para penawar, karena tidak ingin membeli dengan harga tinggi, dapat membeli mobil dengan harga yang lebih murah daripada mereka yang tidak mau menawar.
Suatu dunia ekonomi yang bercirikan pasar persaingan tidak sempurna juga memunculkan teori baru tentang determinasi harga. Dalam pasar persaingan, semua perusahaan adalah penentu harga, perusahaan harus menentukan harganya sesuai dengan kemampuan pasar dan apa yang dilakukan perusahaan lain dalam pasar tersebut. namun, dengan persaingan tidak sempurna, harga dibuat oleh produsen, yang melakukan mark-up pada biaya utama mereka (upah dasar). Semakin kecil persaingan industri, semakin tinggi kenaikan harga. Dan semakin tinggi kebutuhan perusahaan akan sumber dana internal untuk ekspansi, akan semakin besar mark-upnya.
Dalam karyanya, Joan Robinson tidak menonjolkan permasalahan yang berkaitan dengan diferensiasi produk. Gagasan Robinson dipaparkan dengan banyak menggunakan teknik geometrik. Berdasarkan teknik tersebut ditarik berbagai kesimpulan mengenai realitas dalam dunia ekonomi riil, diantaranya kesimpulan-kesimpulan sekitar masalah ekonomi kesejahteraan (welfare economics). Dalam penelitiannya Joan Robinson menyisipkan normatif dengan sadar atau tidak. Misalnya, dalam pandangannya terhadap masalah monopsoni dipasar, hal itu juga disoroti dari segi moral. Dalam hubungan ini, oleh Joan Robinson ditekankan tidak adanya efisiensi dalam kondisi persaingan yang tidak sempurna. Lagi pula dalam keadaan serupa itu terjadi pemersan terhadap tenaga kerja. Sebab, akan timbul perbedaan antara tingkat upah disatu puhak (yang secara riil diterima oleh tenaga kerja) dan nilai produk marjinal dari tenaga kerja itu dipihak lain. Dalam pandangan Joan Robinson, dikala ada monopoli di pasar barang ataupun monopsoni di pasar tenaga kerja, maka hal itu satu sama lain akan membawa pemerasan (exploitation).

 Teori Produktivitas Distribusi Marjinal
Meski banyak kemajuannnya, robinson justru tidak puas dengan Economics of Imperfect Competition sesudah dia selesai menulisnya. Ketidakpuasannya datang dari banyaknya masalah yang ia lihat pada analisis mikroekonomi. Pada tingkat teori, robinson sadar adanya masalah logika dalam analisis penawaran dan penerimaan. Pada tingkat praktik, depresi besar dan karya keynes membuatnya kehilangan minat pada penetapa harga dan keputusan output perusahaan.
Salahsatu masalah dalam analisis penawaran dan permintaan menurut Robinson adalah bahwa analisis ini mengabaikan waktu dan ekspektasi, sebaliknya gagasan tanpa waktu yang disebut “keseimbangan” justru berada di tengah-tengah analisis. Robinson berpendapat bahwa gagasan stabilitas yang melekat dalam analisis keseimbangan tidak cocok untuk disiplin ilmu seperti ekonomi yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perubahan ekonomi. Berlawanan dengan teori ekonomi standar, konsumen dan bisnis tidak merespon harga-harga sekarang yang dapat menggerakkan ekonomi menuju keseimbangan harga. Justru sebaliknya, konsumen dan pengusaha merespon harga saat sekarang berdasarkan pikiran mereka tentang berapa harga dimasa depan. Lagipula perubahan harga dapat mengubah ekspektasi.
Masalah kedua dari analisis penawaran dan permintaan, menurut Robinson, berhubungan dengan modal. Robinson memicu perdebatan yang kemudian dikenal dengan nama “Kontroversi Cambridge” (Cambridge Controversy), dengan kritiknya atas teori distribusi dari kaum marjinalis. Menurut teori ini tingkat laba ditentukan oleh produktivitas marjinal dari modal. Persoalan yang diangkat Robinson adalah bagaimana mengukur modal untuk mencari produik marjinalnya ketika tidak diketahui beberapa tingkat laba. . Pertanyaan yang sederhana da kurang disadari ini muncul dan menimbulkan debat sengit antara Cambridge Inggris dan cambridge Massachussetts.
Robinson menunjukkan bahwa teori produktivitas distribusi marjinal mensyaratkan kita mengetahui permintaan modal untuk mengukur produktivitas marjinal. Pembentukan kurva permintaan ini perlu menghubungkan tingkat keuntungan dengan kuantitas modal. Masalahnya adalah modal bukanlah barang yang homogen (seperti tenaga kerja) yang dapat dengan mudah dihitung dan dijumlah. Modal bisa terdiri atas pabrik-pabrik besar dan kecil, bagian perakitan, palu dan obeng, komputer dan perangkat lunak. Barang-barang ini tidak memiliki persamaan yang membuat kita bisa mencari “jumlah” modal, karena itu diperlukan pendekatan yang lain.
Cara tradisional dalam menghitung barang modal adalah menghitung nilainya atau kemungkinan kemampulabaan di masa depan. cara ini dianggap praktis atau bisa menjelaskan persoalan, tetapi cara ini tidak memuaskan sebagai bagian dari teori yang menjelaskan apa yang menentukan tingkat keuntungan. Seperti yang ditunjukkan Robinson, jika teori ekonomi dianggap bisa menjelaskan tingkat keuntungan, teori i8ni tidak dapat berasumsi mengetahui kemampulabaan modal untuk mengukur jumlah modal. Prosedur ini melingkar, karena itu teori distribusi produktivitas marjinal harus diabaikan.
Kritik Robinson atas teori ekonomi mikro juga mendukung pendekatan makroekonomi keynes. Jika kita menolak produktivitas marjinal sebagai suatu teori distribusi, maka penawaran tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja tidak menentukan upah dan lapangan kerja. Kita tidak lagi punya alasan kuat untuk percaya kalau pengangguran akan hilang dengan menunggu turunnya upah. Demikian juga , jika gagasan keseimbangan tidak berguna bagi studi ekonomi riil maka tidak ada alasan berasumsi bahwa pasar tenaga kerja akan jelas pada keseimbangan lapangan kerja penuh.
Model Akumulasi Modal Joan Robinson
Secara klasik, analisa pertumbuhan ekonomi didasarkan pada pertumbuhan penduduk, kemajuan teknologi, akumulasi modal dan faktor-faktor kelembangaan. Tetapi didalam sistem ekonomi klasik faktor-faktor penentu pembangunan bersifat statis. Model pertumbuhan ekonomi neoklasik yang dikembangkan oleh Joan Robinson, N. Kaldor dan JE. Meade didasarkan pada faktor-faktor yang sama tetapi dengan mengkaji perilaku yang terjadi selama proses pertumbuhan dengan menggunakan teknik-teknik Harrod Domar dan Keynesian.
Model Robinson
Joan Robinson didalam bukunya The Accumulation of Capital mmebangun model pertumbuhan ekonomi yang sedrhana berdasarkan “aturan main kapasitas’. Model ini “ tidak begitu banyak berkaitan dengan pergeseran ekuilibrium dalam perekonomian kapitalis, tetapi ditambah dengan pengkajian sifat-sifat pertumbuhan ekuilibrium”.
ASUMSI
Model robinson didasarkan pada asumsi berikut:
a) Perekonomian liberal yang tertutup
b) Dalam perekonomian itu hanya ada buruh dan modal sebagai faktor produksi
c) Untuk memproduksi suatu output tertentu, modal dan buruh dipergunakan dengan proporsi tetap
d) Kemajuan teknik yang netral
e) Tidak ada kelangkaan buruh dan pengusaha dapat mempekerjakan buruh sebanyak yang mereka sukai
f) Hanya ada dua kelas pekerja dan pengusaha yang menjadi penerima pendapatan nasional
g) Para pekerja sama sekali tidak menabung dan membelanjakan seluruh upahnya untuk konsumsi
h) Para pengusaha sama seklai tidak mengkonsumsi tetapi menabung dan menanamkan keseluruhan pendapatan mereka (yang didapat dari laba) untuk pembentukan modal. “ Jika mereka tidak memperoleh laba, para pengusaha itu tak dapat menumpuk modal, dan kalau tidak menumpuk modal, mereka tidak memperoleh laba”.
i) Tidak ada perubahan dalam tingkat harga.
Pendapatan nasional netto di dalam model Robinson adalah jumlah rekening upah total plus keuntungan total, yang dapat dinyatakan sebagai:
Y = wN + pK
dimana Y adalah pendapatan nasional netto, w tingkat upah nyata, N jumlah buruh yang dipekerjakan, p tingkat keuntungan dan K jumlah modal. Disini Y adalah fungsi N dan K. Karena tingkat keuntungan amatlah penting didalam teori akumulasi modal, hal itu dapat dinyatakan sebagai:
P = (Y – wN) / K
Dibagi dengan N, p = [(Y / N) - w] / (K / N)
Dengan mengganti Y/N = 1 dan K/N= (theta), kita peroleh:
P = (1-w) / 
Jadi tingkat keuntungan adalah rasio antara produktivitas buruh minus rekening upah nyata total terhadap jumlah modal yang dipergunakan untuk setiap unit buruh. Dengan kata lain, tingkat keuntungan (p) tergantung pendapatan (Y), produktivitas buruh (1), tingkat upah nyata (w) dan rasio modal-buruh ().
Pada sisi pengeluaran (expenditure), pendapatan nasional netto (Y) sama dengan pengeluaran konsumsi (C) plus pengeluaran investasi (I),
Y = C + I
Karena Joan robinson mengasumsikan bahwa tabungan dari upah adalah nol dan hanya pengusaha yang menabung, keuntungan diartikan untuk investasi saja, maka kita peroleh :
S = I
Hubungan tabungan-investasi ini dapat dinyatakan sebagai:
S = pK
Dan I = K [K adalah kenaikan dalam modal nyata]
p K = K
atau p = K/K = (1-w)/ 
karena tingkat pertumbuhan modal (K/K) sama dengan p (tingkat keuntungan), maka ia tergantung pada rasio hasil netto dari modal (net natural on capital) relatif terhadap stok modal tertentu. Jika pendapatan naik dan tingkat upah tetap, maka tingkat keuntungan akan cenderung meningkat. Tingkat keuntungan dapat juga naik jika rasio modal-buruh turun. Dengan cara inilah para pengusaha memaksimalkan keuntungan.

Abad keemasan. Disamping laju pertumbuhan modal (K/K), faktor lain menentukan laju pertumbuhan suatu perekonomian adalah laju pertumbuhan penduduk (N/N). Apabila laju pertumbuhan modal, N/N=K/K, perekonomian berada dalam ekuilibrium pekerjaan penuh. Untuk menggambarkan pertumbuhan yang mantap, mulus, dengan pekerjaan penuh Joan Robinson menyebutnya sebagai “zaman keemasan”. “apabila kemajuan teknik bersifat netral dan berlanjut mantap, tanpa perubahan apa pun dalam pola waktu produksi, mekanisme persaingan bekerja dengan bebas, penduduk berkembang pada laju mantap dan akumulasi berjalan cukup cepat untuk memasok kapasitas produksi semua buruh yang tersedia, maka laju keuntungan cenderung konstan dan tingkat upah nyata naik bersamaan dengan output perorang. Tidak ada kontradiksi internal di dalam sistem ini. Output total tahunan dan stok modal kemudian tumbuh bersama-sama dalam laju yang secara proporsional tetap yang melipatgandakan laju kenaikan tenaga buruh dan laju kenaikan output perorang. Kita dapat melukiskan keadaan ini sebagai zaman keemasan.
Dalam hal perekonomian menyimpang dari lintasan “zaman keemasan”, kekuatan-kekuatan tertentu akan cenderung membawa kembali ke posisi ekuilibrium tersebut. misalkan laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi daripada laju pertumbuhan modal, N/N>K/K, dan dengan demikian membawa kesetengah pengangguran secara progresif. Dalam situasi seperti ini, surplus buruh akan menyebabkan upah uang jatuh dan jika tingkat harga tetap konstan malah akan menyebabkan upah-uang jatuh dan jika tingkat harga tetap konstan malah akan menyebabkan upah nyata jatuh. Alhasil, laju keuntungan akan cenderung naik dan laju pertumbuhan modal meningkat terhadap tingkat penduduk. Mekanisme penyeimbangan ini tidak akan bekerja jika upah nyata tidak dapat turun baik karena kekakuan upah-uang ataupun karena tingkat harga jatuh dalam proporsi yang sama seperti upah-uang. Ekuilibrium zaman keemasan tidak dapat diperbaiki dan pegangguran progresif akan berlanjut. Menurut profesor Kurihara: “kemungkinan terakhir ini cocok dengan gagasan harrod tentang ketidaksatbilan berkepanjangan berdasarkan asumsi koefisien teknologi yang konstan dan pergeseran harga secara relatif”.
Dalam hal sebaliknya, jika pertumbuhan modal lebih cepat daripada pertumbuhan penduduk, K/K >N/N, keseimbangan ke arah lintasan “zaman keemasan” dapat dicapai melalui perubahan teknologi seperti perubahan rasio modal-buruh atau perubahan produktivitas buruh dan cara menggeser keseluruhan fungsi produksi ke atas sehingga karena modal meningkat, kebutuhan akan buruh juga meningkat. Tetapi Robinson mengatakan bahwa “mekanisme yang dapat menyesuaikan laju akumulksai dengan laju kenaikan penawaran buruh lebih dapat diandalkan apabila yang diinginkan adalah penurunan laju akumulasi dan bukan kenaikan laju akumulasi itu; surplus tenaga kerja sangat mudah berkembang relatif terhadap stok modal, sementara invesatasi tidak dapat meningkat dan ekonomi tenggelam kedalam stagnasi; sementara itu para pengusaha tidak akan menumpuk sejumlah besar modal dan menahannya, sehingga ketika tingkat modal terlalu tinggi (relatif terhadap tenaga buruh) ia pasti akan jatuh”.
Menurut Robinson, sutu perekonomian berada dalam masa keemasan pada saat rasio pertumbuhan potensial sedang direalisasikan. Rasio pertumbuhan potensial menunjukkan laju tertinggi akumulasi modal yang secara tetap dapat dipertahankan pada tingkat keuntungan konstan . rasio ini kurang lebih sama dengan laju proporsional tenaga kerja plus laju proporsional output perkapita. Kondisi zaman keemasan menghendaki adanya laju pertumbuhan yang mantap karena laju pertumbuhan yang terlalu sering berubah-ubah akan mengganggu ketenangan zaman keemasan. Akan tetapi, ketenangan ini tidak mungkin terjadi sekalipun rasio pertumbuhan tersebut berjalan stabil. Keniakan dalam stok modal total bisa jadi memperlemah dorongan untuk mengakumulasi sehingga mulailah timbul keadaan stagnasi dan perekonomian keluar dari masa keemasan. Masa keemasan bukanlah suatu idaman. Sutu rasio pertumbuhan baru memungkinkan timbulnya suatu masa keemasan baru. Kenaikan rasio pertumbuhan memerlukan kenaikan proporsi kapasitas produksi dan penurunan konsumsi. Sebaliknya, jatuhnya rasio pertyumbuhan dapat membawa ke pengangguran atau peningkatan konsumsi. Suatu keadaan statis, namun demikian, merupoakan keadaan masa keemasan tertentu dimana tingkat pertumbuhan adalah nol, tinglkat keuntungan juga nol dan upah menyerap habis keseluruhan output netto industri. Joan Robinson menyebutnya sebagai “situasi kebahagiaan ekonomis, karena konsumsi berada pada tingkatan maksimum yang secara tetap dapat dipertahankan berdasarkan kondisi teknologi tertentu”.
Joan Robinson di dalam karangannya Essays in the Theory of Economic Growth menulis gagasan masa keemasan tersebut lebih lanjut. Ia membeda-bedakan penentu pertumbuhan ekuilibrium tersebut dan menggolongkannya ke dalam tujuh kelas:
1. kondisi teknikal
2. kebijakan investasi
3. kondisi penghematan
4. kondisi persaingan
5. kesepakatan upah
6. kondisi keuangan (finansial)
7. stok awal barang modal dan besarnya harapan yang didasarkan pada pengalaman masa lalu
ketujuh faktor penentu ini satu sama lain bersifat independen.
Menurut J. Robinson, perekonomian berada dalam keadaan ekuilibrium apabila harga setiap jenis output adalah normal, dan tiap-tiap pabrik bekerja pada kapasitas normalnya. Jika stok modal juga dinilai dengan harga normal,maka tingkat keuntungan pada modal sama dengan tingkat keuntungan pada investasi. Keuntungan per tahun sama dengan nilai investasi netto plus nilai konsumsi para investor dan rentenir. Tingkat keuntungan pada modal ditentukan oleh tingkat akumulasi modal dan proporsi keuntungan yang ditabung. Tingkat upah ditentukan oleh kondisi teknikal.dan tingkat keuntungan. Karena tersedia sejumlah teknik untuk membuat rentetan produksi (line of production) tertenjtu, maka setiap perusahaan dapat menggunakan teknik yang menghasilkan tingkat keuntungan tertingi pada investasi. Tetapi apabila harapan masa depan perusahaan sejalan atau sama dengan harapan masa kini, tingkat keuntungan yang diharapokan untuk semua rentetan produksi adalah sama. Tetapi, sebagaimana ditunjukkan oleh Joan Robinson, keuntungan dikejar demi pertumbuhan daripada sebaliknya pertumbuhan demi keuntungan. Perusahaan, walaupun demikian, didirikan untuk mencoba memaksimasi keuntungan.
Sepanjang menyangkut kemajuan teknikal, ia bersifat netral dalam arti bahwa “nilai modal dalam arti unit upah per orang yang dipekerjakan tidak berubah cukup besar pada waktu akumulasi berlangsung pada lajuyang cukup untuk menjaga agar tingkat keuntungan tetap konstan”. Tetapi laju kemajuan teknikal tergantung pada penawaran dan permintaan akan buruh. Jika perusahaan tidak berhasil memetik keuntungan dari pasar yang menguntungkan yang berkembang disekitarnya, mereka akan berusaha menerapkan peralatan yang menghemat buruh. Sebab, tingkta kemajuan teknikal diartikan sebagai kenaikan output perkepala,dengan mengasumsikan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar nol. Akan tetapi, kemjuan teknikal berjalan terus kendati terdapat pengangguran besar. Joan Robinson mengungkapkan bahwa perkembangan pengetahuan akan melahirkan autonomous innovation. Untu kepentingan modal ini, laju pertumbuhan yang dicita-citakan mungkin jatuh lebih rendah daripada laju pertumbuhan yang mungkin terjadi (the possible rate of growth) lantaran inovasi otonomous dan kompetisi.
Laju pertumbuhan yang dicita-citakan adalah laju akumulasi dimana perusahaan puas dengan situasi yang diketemukan sendiri. Laju pertumbuhan ini ditentukan oleh tingkat upah yang disebabkan oleh laju akumulasi tersebut dan laju akumulasi dirangsang oleh laju keuntungan. Pada pihak lain, laju pertumbuhan yang bisa terjadi tergantung pada kondisi fisik yang timbul dari laju pertumbuhan penduduk dan pengetahuan teknikal.
Pada waktu laju petumbuhan yang dicita-citakan sama denga laju pertumbuhan yang bisa terjadi pada keadaan yang mendekati pekerjaan poenuh, perekonomia berada dalam masa keemasan. Upaya nyata meningkat bersama meningkatnya output per kepala sebagia akibvat kemajuan teknikal. Tetapi tringkat keuntungan pada modal tetap konstan. Dan tekni9k produksi yang cocok untuk tingkat keuntungan tersebut diketemukan. Inilah abad keemasan yang diperasakan oleh joan robinson.

Masa Keemasan dan Masa Platina
Selanjutnya Joan robinson membedakan antara jenis-jenis alternatif pertumbuhan ekuilibrium berdasarkan pada hubungan antara laju pertumbuhan yang dicita-citakan dan laju peeertumbuhan yang bisa terjadi tersebut diatas.
 Masa keemasan yang timpang.
Dalam masa keemasan pincang laju mantap akumulasi modal berada dibawah tingkatan pekerjaan penuh. Stok peralatan modal memang cukup bagi laju akumulasi modal yang dicita-citakan, tetapi tidak cukup untuk mempekerjakan keseluruhan tenaga kerja. Kepincangan dalam masa keemasan ini dapat bersifat ringan atau mungkin berat. Jika output berkembang pada kecepatan yang lkebih rendah daripada output perkepala, tingkat pekerjaan akan jatuh. Sebaliknya, apabila output tumbuh lebih cepat daripada output per kepala, tingkat pekerjaan akan meningkat. Jika pekerjaan meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan tenaga kerja , perekonomian akan bergerak menuju pekerjaan penuh. Singkatnya, dalam suatu masa keemasan yang pincang laju pertumbuhan yang secara aktual terlaksana dibatasi oleh laju yang dicita-citakan.
 Masa kusam
Tetapi apabila pekerjaan meningkat terlalu lamban, rasio buruh yang tidak bekerja terhadap yang bekerja naik, sebagai akibatnya standar kehidupan buruh merosot. Kemerosotan, kemudian akan berlanjut kecuali apabilaupah nyata buruh yang bekerjha naik dengan cepat untuk mengimbangi rasio yangt berkembang antara buruh yang bekerja dan yang tidak bekerja atau apabila tersedia kesempatan yang memadai bagi kerja mandiri. Kedua situasi ini sangat mustahil. Jadi, apabila terjadi kemerosotan dalam standar kehidupan, kemerosotan ini akan mengurangi laju pertumbuhan penduduk. Dalam hal ini tidak ada kemajuan teknikal, mungkin akan timbul keadaan dimana laju akumulasi sama besar dengan laju pertumbuhan tenaga kerja. Tingginya rasio tenaga buruh yang tidak bekerja menyebabkan laju pertumbuhan tenaga kerja tetap sama dengan laju akumulasi. Inilah suatu masa keemasan dimana laju pertumbuhan yang bisa terjadi tertahan oleh laju yang terlaksana.
 Masa Keemasan Terkendali
Dalam masa keemasan terkendali, laju pertumbuhan terlaksana dibatasi oleh laju pertumbuhan yang bisa terjadi dan membuatnya tetap berada lebih rendah. Dengan adanya stok kapital yang diperlukan bagi laju akumulasi yang diinginkan dalam suatu perekonomian pekerjaan penuh, laju pertumbuhan yang diinginkan tidak dapat diwujudkan karena laju pertumbuhan output per kepala tidak begitu cukup untuk hal yang demikian.
Laju pertumbuhan yang diinginkan dapat dikendalikan melalui dua cara. Pertama, melalui pengetatan keuangan. Jika dalam perekonomian pekerjaan penuh, perusahaan ingin mempekerjakan lebih banyak buruh, permintaan akan buruh akan menaikkan tingkat upah uang dan kemudian harga. Ini akan cenderung menaikkan permintaan kredit untuk membiayai produksi dan akibatnya tingkat sukubunga meningkat sehingga menghambat investasi. Pada pihak lain, jika ada pengendalian yang tapat terhadap kredit, perusahaan-perusahaan akan selalu mencoba untuk melakukan lebih banyak investasi. Dalam situasi semacam ini, setiap pelanggaran kredit akan membawa ke inflasi dan perekonomian akan terhalang untuk mencapai laju pertumbuhan yang dicita-citakan. “ suatu masa keemasan yang dikekang melalui kontrol keuangan oleh karena itu tidak dapat disebut sebagai stabilitas jangka pendek,” demikian menurut Robinson.
Kedua, melalui monopsoni di pasar tenaga buruh. Pada waktu kapasitas produktif perusahaan pada kurang digunakan akibat langkanya buruh (karena masing-masing perusahaan mempeunyai kelompok buuruh sendiri-sendiri), tingkat keuntungan yang diharapkan menjadi merosot ke tingkat keuntungan yang bisa terjadi dan di situ tidak ada stabilitas jangka pendek.
Jenis pengendalian tersebut mempunyai dampak yang berbeda-beda terhadap jenis teknik yang dipilih. Jika pengendalian dilakukan dengan menjaga suku bunga pada tingkat yang cukup tinggi sehingga mencegah perkembangan waktu, pemilihan teknik cocok untuk tingkat keuntungan yang berlaku. Jika pengendalian dilakukan melalui pengaturan atau rasionalisasi kredit, perusahaan-perusahaan dapat mempergunakan teknik yang tidak begitumekanis. Apabila pengendalian dilakukan melalui monopsoni di pasar tenaga kerja, teknik yang lebih mekanis dapat dipilih sehingga tingkat keuntungan pada modal turun ke suatu tingkat sedemikian rupa sehingga menurunkan laju pertumbuhan yang dicitakan menjadi sama dengan tingkat aktual yang terealisasi.
 Masa Platina Melesat
Pada masa ini pada mulanya berawal dengan adanya pengangguran. Perusahaan melakukan perluasan di sektor investasi. Karena sektor investasi meluas,lebih banyak buruh dapat dipekerjakan dan tingkat keuntungan akan naik. Tetapi tanpa kemajuan teknikal yang cukup cepat, tingkat upah nyata akan merosot. Oleh karena itu, pada setiap ronde investasi bruto, dipillih teknik kurang padat modal sehingga kesempatan bekerja meluas lebih cepat. Inilah yang disebut masa platina melesat dimana tingkat akumulasi melaju dengan cepat.
 Masa platinum merayap.
Masa ini berawal dengan situasi pekerjaan penuh. Tingkat akumulasi dan tingkat keuntungan sangat tinggi dan tekbik yang diterapkan adalah teknik kurang padat modal. Pertumbuhan tenaga kerja tidak berkembang sama cepatnya dengan pertumbuhan stok modal. Untuk mengendalikan kemungkinan kelangkaan buruh, tingkat sukubunga dinaikkan sehingga sedikit demi sedikit akan menurunkan tingkat keuntungan dan akumulasi. Dengan jatuhnya tingkat keuntungan, orang akan memilih teknik yang lebih mekanis pada setiap babak investasi. Proses ini berjalan begitu rupa sehingga laju akumulasi akhirnya menjadi sama dengan tingkat pertumbuhan buruh tanpa menimbulkan pengangguran macam apapun. “ jadi lintasan yang dilalui oleh model ini menyerupai model ekuilibrium melalui waktu yang logis denganntingkat akumulasi yang melambat, jatuhnya tingkat keuntungan, jatuhnya efisiensi marginal investasi dan meningkatnya tingkat upah nyata, yang mendekati keadaan stasioner”.
 Masa keemasan palsu.
Pertama kali digunakan oleh R.F Kalm. Dalam suatu masa keemasan palsu laju pertumbuhan yang bisa terjadi tertahan tetap rendah oleh upaya nyata karena upah ini berada pada tingkat yang cukup minimum. Pada masa ini, stok modal tidak berkembang lebih cepat karena tekanan inflasioner. Menaikkan harga berarti kemerosotan tingkat upah nyata. Jika tingkat upah nyata berada pada tingkatan minimum yang masih tertenggang, ia berarti menjadi pembatas bagi laju akumulasi modal. Pada masa emas palsu tingkatan rendah inilah laju akumulasi modal lebih rendah daripada laju pertumbuhan penduduk, sehingga pengangguran membengkak. Tetapi pada masa emas palsu tingkat tinggi, buruh yang terorganisasi mungkin menetapkan pagu upah nyata yang cukup tinggi (dengan kenaikan upah uang begitu harga naik). Ini dapat menahan laju akumulasi tetap lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penduduk, sehingga pengangguran menurun. Tetapi laju pertumbuhan yang bisa terjadi tertahan oleh kenaikan inflasi dalam tingkat upah uang.
 Masa platina palsu.
Jika kemajuan teknikal terjadi, maka, meskipun dengan tingkat upah nyata yang berada dalam tingkat kecepatan konstan , laju akumulasi akan meningkat tanpa menyebabkan inflasi. Inilah masa platina palsu.

Penerapan Model Ini Di Negara Terbelakang
Bagi negara terbelakang, model Robinson mempunyai manfaat sebagai berikut. Dalam teorinya, Robinson mengkaji masalah penduduk dan dampaknya pada laju akumulasi modal. Ada “masa keemasan” yang dapat dicapai setiap negara melalui pembangunan ekonomi berencana.
Perekonomian negara terbelakang menghadapi masalah laju pertumbuhan penduduk yang lebih cepat daripada laju pertumbuhan modal, yaitu N/N>K/K, sebagaimana diutarakan Joan Robinson. Ini menunjukkan adanya kecenderungan pengangguran secara progresif dalam perekonomian semacam itu.
Rasio pertumbuhan potensial adalah paling penting dalam teori pertumbuhan ekonomi J. Robinson. Masa keemasan tergangtung rasio pertumbuhan. Tugas perencanaan menjadi lebih mudah jika rasio pertumbuhan potensial suatu perekonomian itu dihitung untuk periode perencanaan atas dasar laju pertumbuhan tenaga kerja dan laju pertumbuhan output perkepala.

Kelemahan Model Ini
Disamping manfaatnya, model ini memiliki kelemahan sebagai berikut:
1. Laju rendah akumulasi modal dibanding laju pertumbuhan potensial. Dalam perekonomian negara terbelakang, laju akumulasi modal selalu lebih rendah daripada rasio pertumbuhan potensialnya, itulah sebabnya ia terbelakang dan memiliki surplus tenaga buruh. Oleh karena itu negara terbelakang menggantungkan pada pejabat perencanaan untuk meningkatkan laju akumulasi ke tingkat rasio pertumbuhann. Namun demikian, negara terbelakang tidak dapat menselaraskan keduanya dengan mengikuti “aturan permainan kapitalis”. Sebaliknya, menjadi tugas pejabat perencanaan untuk mengambil inisiatif dalam pengendalian dan pengaturan, tidak saja terhadap investasi swasta tetapi juga investasi publik. Menurut pengamatan Kurihara: “ pembahasan Joan Robinson atas pertumbuhan modal secara halus mendiskreditkan semua gagasan yang ingin menyerahkan persoalan-persoalan penting seperti pertumbuhan ekonomi kepada permainan kapitalis, karena modelnya mengenai pertumbuhan liberal memperlihatkan bahaya dan tidak aman: mempercayakan tugas-tugas besar mencapai pertumbuhan stabil yang sesuai dengan perluasan kebutuhan penduduk dan dengan kemungkinan memajukan teknologi, semata-mata kepada para pencari untung swasta”.
2. Ekonomi tertutup. Model Joan Robinson didasarkan padaasumsi perekonomian tertutup. Tetapi ini merupakan asumsi yang tidak realistis karena perekonomian negara terbelakang bukan tertutup karena disana ada peran perdagangan dan bantuan luar negeri dalam mempercepat laju pertumbuhan
3. Mengabaikan faktor kelembagaan. Model ini mengasumsikan faktor kelembagaan sebagai tertentu (given). Tetapi peranan faktor kelembagaan sebagai salahsatu penentu pertumbuhan ekonomi tidak dapat diabaikan dalam model apapun. Perkembangan suatu perekonomian dalam batas tertentu tergantung pada perubahan sosial, budaya dan kelembagaan.
4. Tingkat harga konstan. Model ini didasarkan pada asumsi tingkat harga yang konstan. Asumsi ini tidak realistik. Jika perekonomian seperti itubergerak ke arah lintasan kemajuan, investasi harus dinaikkan terus menerus sehingga cenderung menaikkan permintaan faktor. Akan tetapi penawaran faktor tidak dapat dinaikkan memenuhi permintaan itu. ini menyebabkan harga naik. Jadi kenaikan harga merupakan hal yang tak terelakkan dalam pembangunan.
5. Koefisien produksi tetap. Robinson mengasumsikan bahwa untuk memproduksi satu unit output dipergunakan modal dan buruh dalam proporsi yang tetap. Asumsi ini tidak realistik karena dalam suatu perekonomian yang dinamis tidak ada koefisien produksi yang bersifat tetap. Malahan, penggantian modal dan buruh terjadi sepanjang waktu. Derajat penggantian terganttung pada sifat perubahan teknologi.

 Teori Perdagangan Internasional
Robinson juga tokoh penting dalam memperluas ekonomi Keynes sampai ke bidang dunia internasional. Secara tradisional, para ahli ekonomi menyatakan bahwa perubahan nilai tukar atau aliran uang akan memperbaiki setiap ketidakseimbangan yang terjadi. Negara dengan surplus perdagangan akan mendapatkan pemasukan uang atau penguatan nilai mata uang. Hal ini akan membuat harga barang mereka menjadi mahal bagi penduduk negara lain dan akan mengurangi ekspor. Negara yang defisit akan mengalami hal yang sebaliknya-barang mereka akan lebih murah di negara lain dan banyak mengekspor barang; menurut teori ekonomi standar, perubahan harga akan membawa perdagangan pada keseimbangan.
Berlawanan dengan pandangan konvensional ini, Robinson menyatakan bahwa ada suatu mekanisme penyesuaian Keynesian. Masalah perdagangan diselesaikan melalui perubahan pendapatan ketimbang melalui perubahan harga relatif. Negara yang mengalami defisit perdagangan gagal menjual barang yang cukup ke seluruh dunia. Konsekuensinya, produksi turun dan pengangguran meningkat. Akibatnya penduduk negeri ini mengurangi pembelian barang dan jasa dari negara lain sehingga defisit perdagangannya akan menuju ke posisi keseimbangan. Tapi hal ini berdampak pada negara surplus, yang kini mengalami penurunan permintaan barang yang mereka produksi. Surplus perdagangan mereka berkurang tetapi tingkat pengangguran mereka juga meningkat.
Robinson selanjutnya memperluas teori Keynes dengan meneliti perdagangan internasional dalam konteks yang dinamis atau bagaimana keseimbangan perdagangan berubah sepanjang waktu. Ketimbang menganggap perdagangan internasional sebagai suatu cara terbaik bagi negara-negara untuk membagi tugas memproduksi barang yang berbeda, melihat perdagangan luar negeri sebagai bagian strategi pertumbuhan nasional. Surplus perdagangan, khususnya ketika tercapai dengan spesialisasi dalam industri manufaktur, akan menaikkan tingkat keuntungan domestik yang akan memperbesar investasi dan perkembangan teknologi. Hal ini, pada gilirannya, akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja domestik dan memperbesar pendapatan. Karena itu perdagangan surplus dapat memicu perkembangkan jangka panjang dalam produktivitas dan taraf hidup. Dengan upaya untuk menghasilkan surplus perdagangan, kebijakan perdagangan akan menjadi bagian dari senjata ampuh yang bisa digunakan pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Teori ekonomi Joan robinson selalu terpusat pada dunia real, diamping tetap hati-hati menerima teori-teori ekonomi yang tidak realistis atau tidak masuk akal. Analisanya tentang persaingan tak sempurna didasarkan pada sejauh mana perusahaan mengambil keputusan tentang harga, produksi dan tenaga kerja. Sumbnagannya pada makroekonomi post-Keynesian dan teori perdagangan internasional juga dianggap penting karena membantu para ekonom memahami kerja ekonomi yang sebenarnya.
Bidang ekonomi sellau didominasi oleh pria. Bagaimanapun, agak mengherankan bahwa disiplin matematis tak begitu bertanggung jawab terhadap semua ini. Ekonomi hanya memiliki sedikit sarjana ekonomi dan sedikit yang bergelar Ph.D dari kalangan wanita ketimbang ilmu-ilmu alam atau matematika. Di dalam kubu lelaki ini, Joan Robinson berdiri sebagai ahli ekonomi wanita yang paling terkemuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s